Followers

Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan

PANTAI NGOBARAN

Written By JatengGayeng on Sabtu, 31 Maret 2012 | 10.45

Alamat: Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

Pantai Ngobaran ternyata kaya pesona budaya; mulai dari pura, masjid yang menghadap ke selatan, hingga potensi kuliner terpendam yaitu landak laut goreng.
Pantai Ngobaran, dari Pura hingga Landak Laut Goreng

Datang ke Pantai Ngrenehan dan menikmati ikan bakarnya belum lengkap kalau tak mampir di pantai sebelahnya, Ngobaran. Letak pantai yang bertebing tinggi ini hanya kurang lebih dua kilometer dari Pantai Ngrenehan. Tak jauh bukan? Penduduk Pantai Ngrenehan saja sering membicarakan dan mampir ke Pantai Ngobaran, mengapa anda tidak?

Ngobaran merupakan pantai yang cukup eksotik. Kalau air surut, anda bisa melihat hamparan alga (rumput laut) baik yang berwarna hijau maupun coklat. Jika dilihat dari atas, hamparan alga yang tumbuh di sela-sela karang tampak seperti sawah di wilayah padat penduduk. Puluhan jenis binatang laut juga terdapat di sela-sela karang, mulai dari landak laut, bintang laut, hingga golongan kerang-kerangan.


Tapi yang tak terdapat di pantai lain adalah pesona budayanya, mulai dari bangunan hingga makanan penduduk setempat. Satu diantaranya yang menarik adalah adanya tempat ibadah untuk empat agama atau kepercayaan berdiri berdekatan. Apakah itu bentuk multikulturalisme? Siapa tahu.

Bangunan yang paling jelas terlihat adalah tempat ibadah semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih. Tempat peribadatan itu didirikan tahun 2003 untuk memperingati kehadiran Brawijaya V, salah satu keturunan raja Majapahit, di Ngobaran. Orang yang beribadah di tempat ini adalah penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen lho). Nama "Kejawan" menurut cerita berasal dari nama salah satu putra Brawijaya V, yaitu Bondhan Kejawan. Pembangun tempat peribadatan ini mengaku sebagai keturunan Brawijaya V dan menunjuk salah satu warga untuk menjaga tempat ini.

Berjalan ke arah kiri dari tempat peribadatan tersebut, Anda akan menemui sebuah Joglo yang digunakan untuk tempat peribadatan pengikut Kejawen. 
Bila terus menyusuri jalan setapak yang ada di depan Joglo, anda akan menemukan sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Tanaman tersebut dipagari dengan kayu berwarna abu-abu. Titik dimana ranting kering ini tumbuh konon merupakan tempat Brawijaya V berpura-pura membakar diri. Langkah itu ditempuhnya karena Brawijaya V tidak mau berperang melawan anaknya sendiri, Raden Patah (Raja I Demak).

Kebenaran cerita tentang Brawijaya V ini kini banyak diragukan oleh banyak sejarahwan. Sebabnya, jika memang Raden Patah menyerang Brawijaya V maka akan memberi kesan seolah-olah Islam disebarkan dengan cara kekerasan. Banyak sejarahwan beranggapan bahwa bukti sejarah yang ada tak cukup kuat untuk menyatakan bahwa Raden Patah melakukan penyerangan. Selengkapnya bagaimana, mungkin Anda bisa mencari sendiri.

Beberapa meter dari kotak tempat ranting kering tumbuh terdapat pura untuk tempat peribadatan umat Hindu. Tak jelas kapan berdirinya pura tersebut.

Di bagian depan tempat ranting tumbuh terdapat sebuah masjid berukuran kurang lebih 3x4 meter. Bangunan masjid cukup sederhana karena lantainya pun berupa pasir. Seolah menyatu dengan pantainya. Uniknya, jika kebanyakan masjid di Indonesia menghadap ke Barat, masjid ini menghadap ke selatan. Bagian depan tempat imam memimpin sholat terbuka sehingga langsung dapat melihat lautan, tak banyak yang tahu tentang alasannya. Bahkan, penduduk setempat sendiri heran karena yang membangun pun salah satu Kyai terkenal pengikut Nahdatul Ulama yang tinggal di Panggang, Gunung Kidul. Sebagai petunjuk bagi yang akan sholat, penduduk setempat memberi tanda di tembok dengan pensil merah tentang arah kiblat yang sebenarnya.

Setelah puas terheran-heran dengan situs peribadatannya, Anda bisa berjalan turun ke pantai. Kalau datang pagi, maka pengunjung akan menjumpai masyarakat pantai tengah memanen rumput laut untuk dijual kepada tengkulak. Mereka biasanya menjual rumput laut dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilo. Hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Namun, kalau datang sore, biasanya Anda akan menjumpai warga tengah mencari landak laut untuk dijadikan makanan malam harinya. Untuk bisa dimakan, landak laut dikepras dulu durinya hingga rata dan kemudian dipecah menggunakan sabit. Daging yang ada di bagian dalam landak laut kemudioan dicongkel. Biasanya warga mencari landak hanya berbekal ember, saringan kelapa, sabit, dan topi kepala untuk menghindari panas.

Landak laut yang didapat biasanya diberi bumbu berupa garam dan cabe kemudian digoreng. Menurut penduduk, daging landak laut cukup kenyal dan lezat. Sayangnya, tak banyak penduduk yang menjual makanan yang eksotik itu. Tapi kalau mau memesan, coba saja meminta pada salah satu penduduk untuk memasakkan. Siapa tahu, anda juga bisa berbagi ide tentang bagaimana memasak landak laut sehingga warga pantai Ngobaran bisa memakai pengetahuan itu untuk berbisnis meningkatkan taraf kehidupannya.
yogyes.com

PANTAI PARANGKUSUMO

Alamat: Parangkusumo, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Pantai Parangkusumo mengajak anda merasakan pengalaman spiritual tak terlupakan, melawati Batu Cinta sekaligus mengenang pertemuan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul.
Parangkusumo, Pantai Cinta di Yogyakarta

Nuansa sakral akan segera terasa sesaat setelah memasuki kompleks Pantai Parangkusumo, pantai yang terletak 30 km dari pusat kota Yogyakarta dan diyakini sebagai pintu gerbang masuk ke istana laut selatan. Wangi kembang setaman akan segera tercium ketika melewati deretan penjual bunga yang dengan mudah dijumpai, berpadu dengan wangi kemenyan yang dibakar sebagai salah satu bahan sesajen. Sebuah nuansa yang jarang ditemui di pantai lain.

Kesakralan semakin terasa ketika anda melihat taburan kembang setaman dan serangkaian sesajen di Batu Cinta yang terletak di dalam Puri Cepuri, tempat Panembahan senopati bertemu dengan Ratu Kidul dan membuat perjanjian. Senopati kala itu duduk bertapa di batu yang berukuran lebih besar di sebelah utara sementara Ratu Kidul menghampiri dan duduk di batu yang lebih kecil di sebelah selatan.

Pertemuan Senopati dengan Ratu Kidul itu mempunyai rangkaian cerita yang unik dan berpengaruh terhadap hubungan Kraton Yogyakarta dengan Kraton Bale Sokodhomas yang dikuasai Ratu Kidul. Semuanya bermula ketika Senopati melakukan tapa ngeli untuk menyempurnakan kesaktian. Sampai di saat tertentu pertapaan, tiba-tiba di pantai terjadi badai, pohon-pohon di tepian tercabut akarnya, air laut mendidih dan ikan-ikan terlempar ke daratan.

Kejadian itu membuat Ratu Kidul menampakkan diri ke permukaan lautan, menemui Senopati dan akhirnya jatuh cinta. Senopati mengungkapkan keinginannya agar dapat memerintah Mataram dan memohon bantuan Ratu Kidul. Sang Ratu akhirnya menyanggupi permintaan itu dengan syarat Senopati dan seluruh keturunannya mau menjadi suami Ratu Kidul. Senopati akhirnya setuju dengan syarat perkawinan itu tidak menghasilkan anak.

Perjanjian itu membuat Kraton Yogyakarta sebagai salah satu pecahan Mataram memiliki hubungan erat dengan istana laut selatan. Buktinya adalah dilaksanakannya upacara labuhan alit setiap tahun sebagai bentuk persembahan. Salah satu bagian dari prosesi labuhan, yaitu penguburan potongan kuku dan rambut serta pakaian Sultan berlangsung dalam areal Puri Cepuri. Tapa Senopati yang membuahkan hasil juga membuat banyak orang percaya bahwa segala jenis permintaan akan terkabul bila mau memanjatkan permohonan di dekat Batu Cinta. Tak heran, ratusan orang tak terbatas kelas dan agama kerap mendatangi kompleks ini pada hari-hari yang dianggap sakral. Ziarah ke Batu Cinta diyakini juga dapat membantu melepaskan beban berat yang ada pada diri seseorang dan menumbuhkan kembali semangat hidup.

Selain melawati Batu Cinta dan melihat prosesi labuhan, anda juga bisa berkeliling pantai dengan naik kereta kuda. Anda akan diantar menuju setiap sudut Parangkusumo, dari sisi timur ke barat. Sambil naik kereta kuda, anda dapat menikmati pemandangan hempasan ombak besar dan desau angin yang semilir. Ongkos sewa kereta kuda dan kusir sendiri tak terlampau mahal, hanya Rp 20.000,00 untuk sekali keliling.

Bila lelah, Parangkusumo memiliki sejumlah warung yang menjajakan makanan. Banyaknya jumlah peziarah membuat wilayah pantai ini hampir selalu ramai dikunjungi, bahkan hingga malam hari. Cukup banyak pula para peziarah yang menginap di pantai ini untuk memanjatkan doa. Bagi anda yang ingin merasakan pengalaman spiritual di Parangkusumo bisa bergabung dengan para peziarah itu untuk bersama berdoa.
yogyes.com

PANTAI DEPOK

Alamat: Depok, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Pantai Depok menyajikan hidangan ikan segar dan sejumlah hasil tangkapan laut lainnya dalam nuansa khas restaurant pesisir. Tak jauh dari pantai ini, anda bisa menikmati panorama gumuk pasir satu-satunya di kawasan Asia Tenggara.
Pantai Depok, Menikmati Hidangan Ikan Laut Segar

Di antara pantai-pantai lain di wilayah Bantul, Pantai Depok-lah yang tampak paling dirancang menjadi pusat wisata kuliner menikmati sea food. Di pantai ini, tersedia sejumlah warung makan tradisional yang menjajakan sea food, berderet tak jauh dari bibir pantai. Beberapa warung makan bahkan sengaja dirancang menghadap ke selatan, jadi sambil menikmati hidangan laut, anda bisa melihat pemandangan laut lepas dengan ombaknya yang besar.

Nuansa khas warung makan pesisir dan aktivitas nelayan Pantai Depok telah berkembang sejak 10 tahun lalu. Menurut cerita, sekitar tahun 1997, beberapa nelayan yang berasal dari Cilacap menemukan tempat pendaratan yang memadai di Pantai Depok. Para nelayan itu membawa hasil tangkapan yang cukup banyak sehingga menggugah warga Pantai Depok yang umumnya berprofesi sebagai petani lahan pasir untuk ikut menangkap ikan.

Sejumlah warga pantai pun mulai menjadi "tekong", istilah lokal untuk menyebut pencari ikan. Para tekong melaut dengan bermodal perahu bermotor yang dilengkapi cadik. Kegiatan menangkap ikan dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat, yaitu Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Di luar musim paceklik ikan yang berlangsung antara bulan Juni - September, jumlah hasil tangkapan cukup lumayan.

Karena jumlah tangkapan yang cukup besar, maka warga setempat pun membuka Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang kemudian dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) bernama Mina Bahari 45. Tempat pelelangan ikan di pantai ini bahkan menerima setoran ikan yang ditangkap oleh nelayan di pantai-pantai lain. Tempat pelelangan ini  ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

Seiring makin banyaknya pengunjung pantai yang berjarak 1,5 kilometer dari Parangtritis ini, maka dibukalah warung makan-warung makan sea food. Umumnya, warung makan yang berdiri di pantai ini menawarkan nuansa tradisional. Bangunan warung makan tampak sederhana dengan atap limasan, sementara tempat duduk dirancang lesehan menggunakan tikar dan meja-meja kecil. Meski sederhana, warung makan tampak bersih dan nyaman.

Beragam hidangan sea food bisa dicicipi. Hidangan ikan yang paling populer dan murah adalah ikan cakalang, seharga Rp 8.000,00 per kilogram, setara dengan 5 - 6 ekor ikan. Jenis ikan lain yang bisa dinikmati adalah kakap putih dan kakap merah dengan kisaran harga Rp 17.000,00 - Rp 25.000,00 per kilogram. Jenis ikan yang harganya cukup mahal adalah bawal, seharga Rp 27.000,00 - Rp 60.000 per kilogram. Selain ikan, ada juga kepiting, udang dan cumi-cumi.

Hidangan sea food biasanya dimasak dengan dibakar atau digoreng. Jika ingin memesannya, anda bisa menuju tempat pelelangan ikan untuk memesan ikan atau tangkapan laut yang lain. Setelah itu, anda biasanya akan diantar menuju salah satu warung makan yang ada di pantai itu oleh salah seorang warga. Tak perlu khawatir akan harga mahal, setengah kilo ikan cakalang plus minuman, hanya dijual Rp 22.000,00 termasuk jasa memasak.

Puas menikmati hidangan sea food, anda bisa keluar pantai dan berbelok ke kanan menuju arah Parangkusumo dan Parangtritis. Di sana, anda akan menjumpai pemandangan alam yang langka dan menakjubkan, yaitu gumuk pasir. Gumuk pasir yang ada di pantai ini adalah satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan merupakan suatu fenomena yang jarang dijumpai di wilayah tropis. Di sini, anda bisa menikmati hamparan pasir luas, bagai di sebuah gurun.

Gumuk pasir yang terdapat di dekat Pantai Depok terbentuk selama ribuan tahun lewat proses yang cukup unik. Dahulu, ada beragam tipe yang terbentuk, yaitu barchan dune, comb dune, parabolic dune dan longitudinal dune. Saat ini hanya beberapa saja yang tedapat, yaitu barchan dan longitudinal. Angin laut dan bukit terjal di sebelah timur menerbangkan pasir hasil aktivitas Merapi yang terendap di dekat sungai menuju daratan, membentuk bukit pasir atau gumuk.

Untuk menikmati hidangan laut sekaligus pemandangan gumuk pasir ini, anda bisa melalui rute yang sama dengan Parangtritis dari Yogyakarta. Setelah sampai di dekat pos retribusi Parangtritis, anda bisa berbelok ke kanan menuju Pantai Depok. Biaya masuk menuju Pantai Depok hanya Rp 4.000,00 untuk dua orang dan satu motor. Bila membawa mobil, anda dikenai biaya Rp 5.000,00 plus biaya perorangan.
yogyes.com

Parangtritis

Written By JatengGayeng on Selasa, 06 Maret 2012 | 22.57

Address: Jl. Parangtritis km 28 Yogyakarta 55188, Indonesia

Parangtritis is the best tourist place for enjoying the sunset while having fun conquering sand dune with ATV (All-terrain Vehicle) or walking along the beach with a carriage in the romantic evening.
Parangtritis is located 27 km south of Yogyakarta and easily accessible by public transportation that operate up to 17:00pm as well as private vehicles. The afternoon before sunset is the best time to visit this most popular beach in Yogyakarta. But if you arrive sooner, it will not hurt for going up to Tebing Gembirawati (Gembirawati cliffs) behind this beach. From there, we can see the whole area of Parangtritis Beach, southern sea, up to the horizon. Psst, YogYES will tell a secret. Not many people know that on the east side of this clifft, hidden temple ruins. Unlike the other temples located in a mountainous area, Gembirawati Temple is only a few hundred meters from the edge of Parangtritis Beach. To reach this temple, we can pass road uphill near the Hotel Queen of the South and then go down the path to the west for approximately 100 meters. Faintly roar of the ferocious waves of the southern sea could be heard from this temple. Parangtritis Beach is very closely related to the legend of Ratu Kidul (Queen of South). Many Javanese people believe that Parangtritis Beach is the gate of Ratu Kidul’s magical kingdom who controls the southern sea. Hotel Queen of the South is a luxurious resort that is named according to this the legend. Unfortunately the resort is now rarely, whereas it used to have a view that could make us breathless.A Romantic Sunset in Parangtritis When the sun is leaning to the west and the weather is sunny, it is time for having fun. Although visitors are prohibited from swimming, Parangtritis Beach is not lack of the means for having fun. On the beach there is ATVs (All-terrain Vehicle) rental, the tariff is around Rp. 50.000 to 100.000 per half hour. Enter its gear and then release the clutch while pulling the gas. Brrooom, four-wheeled all-terrain motorcycle will be raced bringing you across the sand beach dune.


Well, ATVs may only be suitable for those who are more adventurous. Another option is the carriage. Walking along the sand surface that is smoothly swept by the wave with two-wheeled horse-drawn carriage is no less enjoyable. The carriage will bring us to the end of the east coast of Parangtritis Beach where the cluster of rocks that is so beautiful , so it is often used as the spot of a pre-wedding photo shoot. The dim twilight and golden shade of the sun on the water surface more raise a romantic atmosphere. Parangtritis Beach also offers the excitement for those who travel with family. Kite-flying with your child is also enjoyable. The strong sea breeze is very helpful to make a kite flying high, even if you've never played a kite. Still reluctant for going home even though the sun had set? Soon, some roasted corn sellers will hold a mat on the beach where we can hang out there until late at night. Still do not want to go home? Do not worry, in Parangtritis Beach, there are tens of inns and accommodations available at an affordable price.

sumber : yogyes.com

BaLi Island

Written By JatengGayeng on Senin, 05 Maret 2012 | 04.09

1. Nusa Dua.
It is popular for American tourists. The place is more secluded and have private beaches. It is also popular for tourists from Europe.




2. Ubud
High up in the mountain. Famous for being filmned in Julia Robert movie. Eat , Pray and Love. Great place to visit ief enjoy mountain views, traditional villages and fresh nature.



3. Jimbaran
Another favourite tourists destination. It is a great place to dine in (Seafood) and listen to latin songs. A recommended hotel is Richtz Carton, popular among Japanese tourists


4. Kuta
It is the most favourite place to visit for holiday for Australians. Great beaches with plenty of bars/clubs to enjoy your holiday.

Lombok Island

Lombok island is located east of Bali and accessible by air, fast boat or public ferry.
The simple pleasure of sunshine, white sandy beaches in quieter settings,unique culture, and eco tours makes Lombok a perfect getaway for honeymooners, families or those who look for a total relaxing holiday.

History.
Little is known about the Lombok before the seventeenth century. Before this time it was made up of numerous competing and feuding petty states each of which were presided over by a Sasak 'prince'. This disunity was taken advantage of by the neighbouring Balinese who took control of western Lombok in the early seventeenth century. The Makassarese meanwhile invaded eastern Lombok from their colonies in neighbouring Sumbawa. The Dutch had first visited Lombok in 1674 and the Dutch East India Company concluded its first treaty with the Sasak Princess of Lombok. The Balinese had managed to take over the whole island by 1750, but Balinese infighting resulted in the island being split into four feuding Balinese kingdoms. In 1838, the Mataram kingdom brought its rivals under control.

Relations between the Sasak and Balinese in western Lombok were largely harmonious and intermarriage was common. In the island's east, however, relations were less cordial and the Balinese maintained control from garrisoned forts. While Sasak village government remained in place, the village head became little more than a tax collector for the Balinese. Villagers became a kind of serf and Sasak aristocracy lost much of its power and land holdings.

During one of the many Sasak peasant rebellions against the Balinese, Sasak chiefs sent envoys to the Dutch in Bali and invited them to rule Lombok. In June 1894, the governor general of the Dutch East Indies, Van der Wijck, signed a treaty with Sasak rebels in eastern Lombok. He sent a large army to Lombok and the Balinese raja capitulated to Dutch demands.(see Dutch intervention in Lombok) The younger princes however overruled the raja and attacked and routed the Dutch. The Dutch counterattacked overrunning Mataram and the raja surrendered. The entire island was annexed to the Netherlands East Indies in 1895. The Dutch ruled over Lombok's 500,000 people with a force of no more than 250 by cultivating the support of the Balinese and Sasak aristocracy. While the period was one of deprivation for the Sasak, they Dutch are remembered as liberators from Balinese hegemony.

During World War II a Japanese invasion force comprising elements of the 2nd Southern Expeditionary Fleet invaded and occupied the Lesser Sunda Islands, including the island of Lombok. They sailed from Soerabaja harbour at 09:00 hrs on 8 March 1942 and proceeded towards Lombok Island. On 9 May 1942 at 17:00 hrs the fleet sailed into port of Ampenan on Lombok Island. The Dutch defenders were soon defeated and the island occupied.

Following the cessation of hostilities the Japanese forces occupying Indonesia were withdrawn and Lombok returned temporarily to Dutch control. Following the subsequent Indonesian independence from the Dutch, the Balinese and Sasak aristocracy continued to dominate Lombok. In 1958, the island was incorporated into the province of West Nusa Tenggara with Mataram becoming the provincial capital. Mass killings of communists occurred across the island following the abortive coup attempt in Jakarta and Central Java. During President Suharto's New Order administration, Lombok experienced a degree of stability and development but not to the extent of the boom and wealth in Java and Bali. Crop failures led to famine in 1966 and food shortages in 1973. The national government's transmigrasi program moved a lot of people out of Lombok. The 1980s saw external developers and speculators instigate a nascent tourism boom although local's share of earnings was limited. Indonesia's political and economic crises of the late 1990s hit Lombok hard. In January 2000, riots broke out across Mataram with Christians and ethnic Chinese the main victims, with alleged agents provocateur from outside Lombok. Tourism slumped, but in recent years has seen a renewed growth.
Geography.
The Lombok Strait lies to the immediate west of the island and this waterway marks the passage of the biogeographical division between the fauna of the Indomalayan ecozone and the distinctly different fauna of Australasia that is known as the Wallace Line, for Alfred Russel Wallace, who first remarked upon the distinction between these two major biogeographical regions and how abrupt the boundary was between the two biomes.

To the east of Lombok lies the Alas Strait, a narrow body of water separating the island of Lombok from the nearby island of Sumbawa to the east.
The island's topography is dominated by the centrally-located stratovolcano Mount Rinjani, which rises to 3,726 m (12,224 ft), making the second highest volcano in Indonesia and the nation's third-highest mountain. The most recent eruption of Rinjani was in May, 2010 at Gunung Barujari. Ash was reported as rising up to two km into the atmosphere from the Barujari cone in Rinjani's caldera lake of Segara Anak. Lavaflowed into the caldera lake, pushing its temperature up and crops on the slopes of Rinjani were damaged by ash fall. The volcano, and its crater lake, 'Segara Anak' (child of the sea), are protected by the Gunung Rinjani National Park established in 1997.

The highlands of Lombok are forest clad and mostly undeveloped. The lowlands are highly cultivated. Rice, soybeans, coffee, tobacco, cotton, cinnamon, cacao, cloves, cassava, corn,coconuts, copra, bananas and vanilla are the major crops grown in the fertile soils of the island. The southern part of the island is fertile but drier, especially toward the southern coastline.

The water supply in Lombok is stressed and this places strain upon both the water supply of the provincial capital, Mataram, and the island in general. The southern and central areas are reported to be the most critically affected. West Nusa Tenggara province in general is threatened with a water crisis caused by increasing forest and water table damage and degradation. 160 thousand hectares of a total of 1960 thousand hectares are thought to have been affected. The Head of Built Environment and Security Forest Service Forest West Nusa Tenggara Andi Pramari stated in Mataram on Wednesday, May 6, 2009 that, "If this situation is not addressed it can be expected that within five years it may be difficult for people to obtain water in this part of NTB (West Nusa Tenggara). Not only that, the productivity of agriculture in value added will fall, and the residents are experiencing water deficiency in their wells". High cases of timber theft in the region of NTB are contributing to this problem. In September 2010, Central Lombok some villagers were reported to be walking for several hours to fetch a single pail of water. Nieleando, a small coastal village about 50 kilometers from the provincial capital, Mataram, has seen dry wells for years. It has been reported that occasionally the problem escalates sufficiently for disputes and fighting between villagers to occur. The problems have been reported to be most pronounced in the sub-districts of Jonggat, Janapria, Praya Timur, Praya Barat, Praya Barat Daya and Pujut. In 2010 all six sub-districts were declared drought areas by provincial authorities. Sumbawa, the other main island of the province, also experienced severe drought in 10, making it a proce-wide issue.
of the province, also experienced severe drought in 10, making it a proce-wide issue.