Followers

Tampilkan postingan dengan label bantul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bantul. Tampilkan semua postingan

PANTAI DEPOK

Written By JatengGayeng on Sabtu, 31 Maret 2012 | 10.30

Alamat: Depok, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Pantai Depok menyajikan hidangan ikan segar dan sejumlah hasil tangkapan laut lainnya dalam nuansa khas restaurant pesisir. Tak jauh dari pantai ini, anda bisa menikmati panorama gumuk pasir satu-satunya di kawasan Asia Tenggara.
Pantai Depok, Menikmati Hidangan Ikan Laut Segar

Di antara pantai-pantai lain di wilayah Bantul, Pantai Depok-lah yang tampak paling dirancang menjadi pusat wisata kuliner menikmati sea food. Di pantai ini, tersedia sejumlah warung makan tradisional yang menjajakan sea food, berderet tak jauh dari bibir pantai. Beberapa warung makan bahkan sengaja dirancang menghadap ke selatan, jadi sambil menikmati hidangan laut, anda bisa melihat pemandangan laut lepas dengan ombaknya yang besar.

Nuansa khas warung makan pesisir dan aktivitas nelayan Pantai Depok telah berkembang sejak 10 tahun lalu. Menurut cerita, sekitar tahun 1997, beberapa nelayan yang berasal dari Cilacap menemukan tempat pendaratan yang memadai di Pantai Depok. Para nelayan itu membawa hasil tangkapan yang cukup banyak sehingga menggugah warga Pantai Depok yang umumnya berprofesi sebagai petani lahan pasir untuk ikut menangkap ikan.

Sejumlah warga pantai pun mulai menjadi "tekong", istilah lokal untuk menyebut pencari ikan. Para tekong melaut dengan bermodal perahu bermotor yang dilengkapi cadik. Kegiatan menangkap ikan dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat, yaitu Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Di luar musim paceklik ikan yang berlangsung antara bulan Juni - September, jumlah hasil tangkapan cukup lumayan.

Karena jumlah tangkapan yang cukup besar, maka warga setempat pun membuka Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang kemudian dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) bernama Mina Bahari 45. Tempat pelelangan ikan di pantai ini bahkan menerima setoran ikan yang ditangkap oleh nelayan di pantai-pantai lain. Tempat pelelangan ini  ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

Seiring makin banyaknya pengunjung pantai yang berjarak 1,5 kilometer dari Parangtritis ini, maka dibukalah warung makan-warung makan sea food. Umumnya, warung makan yang berdiri di pantai ini menawarkan nuansa tradisional. Bangunan warung makan tampak sederhana dengan atap limasan, sementara tempat duduk dirancang lesehan menggunakan tikar dan meja-meja kecil. Meski sederhana, warung makan tampak bersih dan nyaman.

Beragam hidangan sea food bisa dicicipi. Hidangan ikan yang paling populer dan murah adalah ikan cakalang, seharga Rp 8.000,00 per kilogram, setara dengan 5 - 6 ekor ikan. Jenis ikan lain yang bisa dinikmati adalah kakap putih dan kakap merah dengan kisaran harga Rp 17.000,00 - Rp 25.000,00 per kilogram. Jenis ikan yang harganya cukup mahal adalah bawal, seharga Rp 27.000,00 - Rp 60.000 per kilogram. Selain ikan, ada juga kepiting, udang dan cumi-cumi.

Hidangan sea food biasanya dimasak dengan dibakar atau digoreng. Jika ingin memesannya, anda bisa menuju tempat pelelangan ikan untuk memesan ikan atau tangkapan laut yang lain. Setelah itu, anda biasanya akan diantar menuju salah satu warung makan yang ada di pantai itu oleh salah seorang warga. Tak perlu khawatir akan harga mahal, setengah kilo ikan cakalang plus minuman, hanya dijual Rp 22.000,00 termasuk jasa memasak.

Puas menikmati hidangan sea food, anda bisa keluar pantai dan berbelok ke kanan menuju arah Parangkusumo dan Parangtritis. Di sana, anda akan menjumpai pemandangan alam yang langka dan menakjubkan, yaitu gumuk pasir. Gumuk pasir yang ada di pantai ini adalah satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan merupakan suatu fenomena yang jarang dijumpai di wilayah tropis. Di sini, anda bisa menikmati hamparan pasir luas, bagai di sebuah gurun.

Gumuk pasir yang terdapat di dekat Pantai Depok terbentuk selama ribuan tahun lewat proses yang cukup unik. Dahulu, ada beragam tipe yang terbentuk, yaitu barchan dune, comb dune, parabolic dune dan longitudinal dune. Saat ini hanya beberapa saja yang tedapat, yaitu barchan dan longitudinal. Angin laut dan bukit terjal di sebelah timur menerbangkan pasir hasil aktivitas Merapi yang terendap di dekat sungai menuju daratan, membentuk bukit pasir atau gumuk.

Untuk menikmati hidangan laut sekaligus pemandangan gumuk pasir ini, anda bisa melalui rute yang sama dengan Parangtritis dari Yogyakarta. Setelah sampai di dekat pos retribusi Parangtritis, anda bisa berbelok ke kanan menuju Pantai Depok. Biaya masuk menuju Pantai Depok hanya Rp 4.000,00 untuk dua orang dan satu motor. Bila membawa mobil, anda dikenai biaya Rp 5.000,00 plus biaya perorangan.
yogyes.com

Parangtritis

Written By JatengGayeng on Selasa, 06 Maret 2012 | 22.57

Address: Jl. Parangtritis km 28 Yogyakarta 55188, Indonesia

Parangtritis is the best tourist place for enjoying the sunset while having fun conquering sand dune with ATV (All-terrain Vehicle) or walking along the beach with a carriage in the romantic evening.
Parangtritis is located 27 km south of Yogyakarta and easily accessible by public transportation that operate up to 17:00pm as well as private vehicles. The afternoon before sunset is the best time to visit this most popular beach in Yogyakarta. But if you arrive sooner, it will not hurt for going up to Tebing Gembirawati (Gembirawati cliffs) behind this beach. From there, we can see the whole area of Parangtritis Beach, southern sea, up to the horizon. Psst, YogYES will tell a secret. Not many people know that on the east side of this clifft, hidden temple ruins. Unlike the other temples located in a mountainous area, Gembirawati Temple is only a few hundred meters from the edge of Parangtritis Beach. To reach this temple, we can pass road uphill near the Hotel Queen of the South and then go down the path to the west for approximately 100 meters. Faintly roar of the ferocious waves of the southern sea could be heard from this temple. Parangtritis Beach is very closely related to the legend of Ratu Kidul (Queen of South). Many Javanese people believe that Parangtritis Beach is the gate of Ratu Kidul’s magical kingdom who controls the southern sea. Hotel Queen of the South is a luxurious resort that is named according to this the legend. Unfortunately the resort is now rarely, whereas it used to have a view that could make us breathless.A Romantic Sunset in Parangtritis When the sun is leaning to the west and the weather is sunny, it is time for having fun. Although visitors are prohibited from swimming, Parangtritis Beach is not lack of the means for having fun. On the beach there is ATVs (All-terrain Vehicle) rental, the tariff is around Rp. 50.000 to 100.000 per half hour. Enter its gear and then release the clutch while pulling the gas. Brrooom, four-wheeled all-terrain motorcycle will be raced bringing you across the sand beach dune.


Well, ATVs may only be suitable for those who are more adventurous. Another option is the carriage. Walking along the sand surface that is smoothly swept by the wave with two-wheeled horse-drawn carriage is no less enjoyable. The carriage will bring us to the end of the east coast of Parangtritis Beach where the cluster of rocks that is so beautiful , so it is often used as the spot of a pre-wedding photo shoot. The dim twilight and golden shade of the sun on the water surface more raise a romantic atmosphere. Parangtritis Beach also offers the excitement for those who travel with family. Kite-flying with your child is also enjoyable. The strong sea breeze is very helpful to make a kite flying high, even if you've never played a kite. Still reluctant for going home even though the sun had set? Soon, some roasted corn sellers will hold a mat on the beach where we can hang out there until late at night. Still do not want to go home? Do not worry, in Parangtritis Beach, there are tens of inns and accommodations available at an affordable price.

sumber : yogyes.com