Followers

Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jogja. Tampilkan semua postingan

MALIOBORO

Written By JatengGayeng on Sabtu, 31 Maret 2012 | 10.10

Alamat: Jl. Malioboro, Yogyakarta, Indonesia
Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Tak hanya sarat kisah dan kenangan, Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.

MALIOBORO
Menyusuri Jalan Karangan Bunga dan Surga Cinderamata di Jantung Kota Jogja

Matahari bersinar terik saat ribuan orang berdesak-desakan di sepanjang Jalan Malioboro. Mereka tidak hanya berdiri di trotoar namun meluber hingga badan jalan. Suasana begitu gaduh dan riuh. Tawa yang membuncah, jerit klakson mobil, alunan gamelan kaset, hingga teriakan pedagang yang menjajakan makanan dan mainan anak-anak berbaur menjadi satu. Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya rombongan kirab yang ditunggu pun muncul. Diawali oleh Bregada Prajurit Lombok Abang, iring-iringan kereta kencana mulai berjalan pelan. Kilatan blitz kamera dan gemuruh tepuk tangan menyambut saat pasangan pengantin lewat. Semua berdesakan ingin menyakasikan pasangan GKR Bendara dan KPH Yudhanegara yang terus melambaikan tangan dan menebarkan senyum ramah.

Itulah pemandangan yang terlihat saat rombongan kirab pawiwahan ageng putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X lewat dari Keraton Yogyakarta menuju Bangsal Kepatihan. Ribuan orang berjejalan memenuhi Jalan Malioboro yang membentang dari utara ke selatan. Dalam bahasa Sansekerta, malioboro berarti jalan karangan bunga karena pada zaman dulu ketika Keraton mengadakan acara, jalan sepanjang 1 km ini akan dipenuhi karangan bunga. Meski waktu terus bergulir dan jaman telah berubah, posisi Malioboro sebagai jalan utama tempat dilangsungkannya aneka kirab dan perayaan tidak pernah berubah. Hingga saat ini Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Titik Nol masih menjadi tempat dilangsungkannya beragam karnaval mulai dari gelaran Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival Kesenian Yogyakarta, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lainnya.

Sebelum berubah menjadi jalanan yang ramai, Malioboro hanyalah ruas jalan yang sepi dengan pohon asam tumbuh di kanan dan kirinya. Jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut. Kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu.

Melihat Malioboro yang berkembang pesat menjadi denyut nadi perdagangan dan pusat belanja, seorang kawan berujar bahwa Malioboro merupakan baby talk dari "mari yok borong". Di Malioboro Anda bisa memborong aneka barang yang diinginkan mulai dari pernik cantik, cinderamata unik, batik klasik, emas dan permata hingga peralatan rumah tangga. Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri. Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu Paranggi. Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan mendendangkan lagu "Yogyakarta" milik Kla Project akan menjadi pengalaman yang sangat membekas di hati.

Malioboro adalah rangkaian sejarah, kisah, dan kenangan yang saling berkelindan di tiap benak orang yang pernah menyambanginya. Pesona jalan ini tak pernah pudar oleh jaman. Eksotisme Malioboro terus berpendar hingga kini dan menginspirasi banyak orang, serta memaksa mereka untuk terus kembali ke Yogyakarta. Seperti kalimat awal yang ada dalam sajak Melodia karya Umbu Landu Paranggi "Cintalah yang membuat diriku betah sesekali bertahan", kenangan dan kecintaan banyak orang terhadap Malioboro lah yang membuat ruas jalan ini terus bertahan hingga kini.
yogyes.com



Keteb Pass

Written By JatengGayeng on Senin, 05 Maret 2012 | 18.45

Keteb Pass merupakan objek wisata yang terletak di daerah Magelang. Jaraknya kurang lebih 50 km dari kota Jogja dan bisa ditempuh dalam waktu 1-1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor. Jika kita menuju ke Keteb kita akan melewati jalanan yang sedikit berliku dan naik-turun, jadi sebaiknya kondisi kendaraan harus benar-benar fit. Jangan lupa juga untuk membawa jas hujan jika menggunakan motor, karena cuaca disini juga sering berubah-ubah dengan udara yang dingin sekali jika hujan tiba . Sesampainya di Keteb kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Jika cuaca sedang bagus dari kejauhan kita bisa melihat beberapa gunung, antara lain Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing. Gunung yang terdekat dan dapat dilihat dengan jelas tentu saja Gunung Merapi. Jika ingin melihat pemandangan Gunung Merapi lebih dekat lagi kita bisa menyewa teropong yang banyak disewakan di area Keteb Pass ini.
Sesampainya di Keteb kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Jika cuaca sedang bagus dari kejauhan kita bisa melihat beberapa gunung, antara lain Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing. Gunung yang terdekat dan dapat dilihat dengan jelas tentu saja Gunung Merapi. Jika ingin melihat pemandangan Gunung Merapi lebih dekat lagi kita bisa menyewa teropong yang banyak disewakan di area Keteb Pass ini.


Tidak hanya pemandangan yang menakjubkan saja yang bisa kita nikmati, disini juga terdapat Museum Gunung Merapi. Di museum kita bisa melihat foto-foto ledakan Gunung Merapi dan sejarah tentang Merapi di masa lalu. Selain museum, di Keteb Pass juga terdapat Keteb Volcano Theater yang memutar film dokumenter tentang meletusnya Gunung Merapi. Durasi filmnya tidak terlalu lama, hanya sekitar 20 menit saja.

Jika sudah lelah kita bisa berisitirahat di tempat-tempat yang banyak disediakan. Sambil bersantai dan menikmati pemandangan, kita dapat memesan jagung bakar ataupun minuman hangat yang banyak disediakan oleh warung-warung yang ada di dalam lokasi wisata.

greatstyo.wordpress.com